CERITA DAN KARYA CORAT CORET SI MEGOL

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Maret 2011

SUARA KERAS DARI KEGEMINGAN

Desa Geming. Sebuah desa yang dibingkai dengan alam yang tak pernah bersuara. Angin pun begitu senyap...menghasilkan rasa menggigil saat kau terkena tiupannya.
Gemercik suara air tak jua teresonansi. Mengalir begitu saja tak bergemercik, hanya mengalir apa adanya mengikuti alur sampai ke lautan yang nantinya akan bersuara dengan deburannya.

Bahkan penduduk yang tinggal di dalamnya berkata dengan bisikan yang lemah. Mereka lebih sering mengungkapkan sesuatu dengan tatapan matanya atau sunggingan senyum. Tak ada sapaan ataupun salam ketika bertemu dengan penduduk. Mereka dikenal sebagai manusia yang tak punya rasa marah.

Kesenyapan. Kesunyian. Kegemingan desa itu membingungkan para ahli gelombang suara dari seluruh dunia. Puluhan tahun penelitian dilakukan di desa itu namun tak ada yang tahu apa penyebab engganya suara memantul di desa itu. Hanya di desa itu. Seakan akan ada selubung metafisis yang menyerap semua suara dari desa itu.

Bila kalian masuk ke dalam desa itu kalian akan menyerah dengan kesunyian dalam waktu tiga hari saja. Kalian akan merasa kesepian. Merasa terabaikan dengan kegemingan. Saat kalian berharap ada satu suara saja yang menyapa kalian, harapan itu musnah. Daun yang kalian harap berbunyi saat jatuh dari pepohonan randu yang tumbuh lebat di sekitar desa, tak mau membantu menjawab harapan kalian.

Tuli. Itulah perasaan yang menjadi kesan pertama saat kalian menginjakan kaki di Desa Geming. Kamu bisa berbicara tapi kamu tak bisa mendengar suaramu. Kamu bisa melihat kuda-kuda besar melenggang di dekatmu tapi kamu tak bisa dengar ringkikan atau tepakan kaki-kaki mereka. Kamu yang terbiasa dengan ramai akan merasa frustasi dengan kesenyapan. Kamu, yang pada awalnya ingin mencari tenang dalam kesunyian desa yang sering dikomodifikasi perusahaan perjalanan akan menyerah dalam hari ketiga. Dan merindukan keramaian.

Pada tahun 2003. Tradisi sunyi alam pecah oleh sebuah suara. Suara paling keras yang pernah terdengar di desa ini. Kontan, penduduk kaget mendengar suara keras tersebut. Semua orang berhenti beraktivitas. Bayi-bayi menangis. Hewan-hewan yang tadinya diam ikut bersuara. Embikan kambing, ringkikan kuda, meong kucing, gonggongan anjing, desisan ular...makin membuat suasana mencekam.

Panik. Semua orang keluar. Kerongkongan 500 orang berteriak ketakutan. Teriakan pertama mereka. Segala macam doa dipanjatkan. Takut kiamat datang.Mereka tahu kiamat akan datang dengan suara bukan dengan keheningan. Semua orang menutup telinganya. Takut dengan kata-kata yang diperdengarkan oleh sumber teriakan. Degupan jantung mereka terdengar. Alam ikutan berbicara. Suara angin yang pelan seperti suara badai. Gemercik sungai yang sejatinya halus terdengar seperti bendungan jebol. Gesekan daun seperti bunyi sauara sepatu lars tentara. Begitu memekakan.

Wanita wanita menangis..pilu....sedih dengan pesan yang terdengar dari suara keras itu. Laki-laki makin menutup kuping mereka. Takut gendang telinganya pecah.

Sekonyong-konyong suara baling-baling menambah keriuhan siang itu. Pakar gelombang suara terkaget kaget dengan berita bahwa Desa Geming bersuara untuk pertama kalinya. Selubung kedap suara akhirnya terbuka. Selubung tak kasat mata dan tak kasat suara.
Segala teori dikemukakan di layar kaca. Para ahli gelombang suara urun pendapat tenatang muculnya suara keras di Desa Geming.

Suara itu berbunyi: Bebas...kami ingin bebas dari diam. Diam bukan emas. Kami tertekan


Setelah dilacak suara itu berasal dari perut seorang wanita yang sedang mengandung. Usia kandungannya sudah menginjak usia melahirkan. sembilan bulan sepuluh hari. Kata Dukun Bersalin setempat wanita itu adalah wanita bisu. Seorang wanita pendatang dari tempat yang penuh dengan pabrik. Saat wanita itu datang ia masih menggunakan seragam pabrik.

Tanpa ada yang mengetahui. Wanita itu bisu setelah mengalami trauma. Dia menjadi korban penculikan sehari setelah dia melakukan protes bersama buruh-buruh wanita yang tak dapat upah layak. Yang tenaganya dieksploitasi tanpa memperhatikan hak tubuhnya. Lelah. Mereka tak boleh lelah.

Pada hari malang itu, ia diculik dari mess kerjanya. Dia dibawa ke sebuah gudang kosong. disekap. Diperkosa bergantian.

Saking tegarnya ia tidak lantas hilang akal. Tidak menyerahkan kesadarannya pada penderitaan. Ia memilih menyepi ke tempat paling sunyi di dunia. Tempat yang bisa menerima dan menyerap tangisannya tanpa suara. Desa geming. Desa yang tak pernah bersuara, yang penduduknya hanya saling menatap atau senyum saat bertatap muka.

Suara itu semakin keras. Terdengar sampai ke ibukota. Ke Jakarta. Ke Parlemen. Ke Penjara-penjara. Ke mall mall dan plaza plaza. Ke Istana Negara.
Presiden yang sedang menikmati makan siang dengan jajaran kabinet bisa mendengar suara itu. Suara yang terasa dekat.

Meraka diam diam mendengarakn suara itu. Yang mereka pikir berasal dari demonstran. Demonstran yang selalu mereka remehkan.


Bebas...kami ingin bebas dari diam. Diam bukan emas. Kami tertekan
Bebas...kami bukan diam tapi hanya menunggu waktu untuk bicara pelan dengan kepalan tangan




Depok, Maret 2011

Jumat, 18 Maret 2011

Bujang Muda dan Kakeknya

Suatu Hari di sebuah negeri bernama utopianesia.........

”kakek...lihat aku menemukan sebuah buku tua. Aku menemukannya saat aku sedang menggali tanah untuk membuat kolam ikan” Ucap Bujang Muda sambil memberkan buku bersampul kulit lusuh pada Kakeknya
kakek mengambil buku itu dan membaca halaman judulnya. Runtuhnya peradaban negara khatulistiwa tenggara. Baca kakek dalam hati. Ada perasaan menclos
” Kakek....apa judulnya? apa isinya?” tanya sang cucu yang berusia18 tahun. Aku lihat huruf-huruf dalam buku itu begitu asing. Spertinya itu aksara yang sangat kuno
” cucuku......ini jenis tulisan abjad latin...iya aksara latin.....” kakek membolak balik halaman demi halaman
”lalu apa kata buku tua itu?” tanya sang cucu dengan mata membelalak. Penasaran,
Kemudian kakek membuka halaman pertama. berjudul: Revolusi memang harus selalu memakan anaknya sendiri
Apa tulisannya kek? apakah ini buku petunjuk menuju sebuah harta karun
Kekek tertawa........” bukan...bujang muda, ini buku sejarah kehancuran sebuah negara”
”negara? negara apa kakek?” tanua Bujang Muda
”di sini tertulis negara khatulistiwa tenggara........” kakek kembali ke halaman judul
” khatulsitiwa tenggara? bujang tak pernah dengar. Guru bujang tak pernah menceritakan satu negara dengan nama khatulistiwa tenggara? mungkinkah buku ini mengisahkan legenda bukan sejarah?”
” apa beda sejarah dengan legenda bujang” uji kakek
” mmmmm....sejarah itu berdasarkan fakta nyata...legenda berdasarkan kisah namun berhubungan dengan suatu fakta fisik kek...misal asal usul sebuah gunung...gunungnya ada namun kisah bagimana gunung itu terbentuk dihiasi kisah fantasi...kalau sejarah tidak kek....ia adalah ilmu pengetahuan yang memerlukan langkah langkah ilmiah...menghadirkan masa lalu dengan sumber sumber kesejarahan yang sudah dibuktikan secara sahih ”
” begitu bujang muda?”
”kurang lebih begitu?”
”lalu bagimana dengan nyayian yang menceritakan asal-usul bangsa kita ini. Apa itu sejarah juga Bujang?”
”cerita rakyat kek bukan sejarah......belum tentu benar karena ini hanya kisah turun temurun...kebenarannya tereduksi oleh ingatan...Kakek mengapa engkau menguji pengkajian ilmu sejarah. Aku sudah lelah dengan ilmu pengetahuan. Aku butuh hiburan. Ayolah bacakan isi buku itu untukku. Buku dengan aksara aneh itu”
”Bujang...kakek sudah hapal isi buku ini diluar kepala....ini milik kakek...sengaja kakek kubur supaya kakek tak bersedih mengingat kejadian yang pahit....kejadian yang membuat negeri indah itu sengaja dilupakan”
”jadi ini sungguhan?” Bujang muda mengangkat buku tua itu tinggi-tinggi
”iya...kakek adalah generasi terakhir negara yang sudah runtuh itu” ucap kakek sambil menerawang ke atas langit yang kala itu mendung


”Negara khatulistiwa tenggara adalah sebuah negara yang pernah berdiri di tanah yang kau pijak kini. Lahir tahun 1945 runtuh tahun 2028”
”Apa yang menyebabkanya runtuh kek?....tunggu berarti negara ini runtuh tujuh puluh tahun yang lalu? saat itu kakek umur berapa?” tanya bujang muda
”negeri itu runtuh karena sebuah revolusi....kamu tahu bujang sebuah negara mengalami siklus yang sama lahir jaya dan mati. Memang ada beberapa yang belum mati. Namun itu semua hanya masalah waktu. Saat kejadian mengerikan itu berlangsung aku seumuran denganmu bujang”
” revolusi biasanya mengerikan kek. Aku baca tentang revolusi Rusia Kek. Saat kaum merah menghabiskan kaum aristrokat, kaum istana habis....hmmm....apakah Khatulistiwa Tenggara dahulu dipimpin oleh Raja lalim yang bertingkah polah seperti nambrud?”
”Negara Khatulistiwa Tenggara itu republik bujang. Dipimpin presiden. Presiden yang terakhir tidak lalim namun dia bisu, lumpuh dan buta”
”bisu, lumpuh dan buta?”
”iya bisu...tidak sanggup berkata tidak pada kelaliman. Lumpuh tak mampu menggerakan raganya untuk memberantas kelaliman. Hatinya buta. Sengaja dibutakan ketika dihadapannya beanyak terjadi kelaliman. Kelaliman yang dilakukan lebih kejam dari kejamnya Namrud ataupun Firaun. Kelaliman itu bernama korupsi. Tau kau Korupsi?”
”....menggunakan uang negara untuk kepentingan pribadi dan golongan” jawab bujang sambil memandang mata kakek yang sudah layu dan terlihat sedih.

”Kau tau bujang? Korupsi itu akar dari segala maut bujang. Orang tak berangkat ke sekolah karena dana pendidikan disunat sampai tinggal receh. Sekolah ambruk. Guru guru saat itu khususnya ketika negara itu dekat dengan keruntuhan, banyak yang jadi pengemis bujang. Orang banyak yang mati di jalan karena banyak yang tak sanggup membiayai diri mereka untuk sehat. Bahkan di rumah sakit rumah sakit ada tulisan: Mau Sehat jangan miskin. Dana kesehatan yang dianggarkan dalam anggaran negara hanya dongeng. Karena masuk ke dalam kantong juru mudi negeri itu. Jalanan rusak.....dana untuk membuatnya dibuat untuk liburan ke luar negari bujang, buat makan di restoran.Orang banyak yang mati dalam kendaraan.........ikut arisan maut dalam motor dalam mobil. Mungkin kau tak tahu apa itu motor atau mobil” kakek terkekeh. ”Kendaraan roda dua yang digerakan mesin. Kau hanya tau sepeda ya bujang. Bersyukurlah kau dilahirkan dalam peradaban sepeda.Udara yang kau hirup bersih bujang.......” Kakek mnghirup udara untuk mengisi paru-parunya dengan udara negara utopianesia yang bebas timbal
”Presiden terakhir itu koruptor juga kek?”
”Tidak dia bukan koruptor tapi pemelihara koruptor. Seperti majikan tuyul. Dia makan juga itu duit hasil mencuri dari rakyat. Dia cuci uang hasil korupsi dengan membangun tempat ibadah. Menyumbangkannya ke bencana...dulu negara kathilistiwa tenggara sering kena bencana. Orang tua bilang....alam mencerminkan apa yang ada di sanubari manusinya. Sanubari kacau alampun kacau ”
”lalu apa yang diperbuat para imam kek? apa mereka tidak berdoa? Tidak menasehati”
” Bujang.... para imam saat itu berebut pengaruh. Menjual agama untuk mengisi kantongya. Promosi tentang kehidupan abadi dalam surga. Menjanjikan syahwat dengan bidadari. Menjanjikan kemudaan dalam surga. Tidak mengajarkan bagaimana bersikap sesuai kitab suci. Meraka hanya mendogma. Memang si tidak semuanya. Ada juga imam yang baik. Tapi mereka tidak mau bermasyarakat. Mencari syurganya sendiri”
”Apa keprcayaan yang mereka anut?”
”Sama seperti sekarang Bujang. Namun saat itu kebebasan beragama dan berkepercayaan ada di dalam Undang-Undang saja. Kau tak boleh berbeda. Berbeda itu kafir bujang. Bahkan ada yang membunuh demi Tuhan. Tuhan jadi merek dagang”
” Kakek...bagimana kehidupan keseharian kalian dahulu..anak anak sekolah di mana? apa yang kalian makan dan minum...apa hiburan kalian? bagimana bentuk rumah kalian?”
” keseharian kami dahulu normal kelihatannya. Namun bila kau perhatikan benar-benar, tidak. Prinsip hidup kami dahulu adalah: yang penting terlihat berjalan. Ibaratnya seperti emas imitasi. Palsu. Semua anak bersekolah, namun yang mereka lakukan adalah duduk di kelas untuk mendengar ocehan guru. Tak ada ilmu yang dimengerti. Terlalu banyak yang dipelajari. Kecerdasan itu ditentukan oleh angka. Bukan dari pemahaman dalam hidup. Semua orang makan enak...tapi yang mereka makan itu racun. Makanan cepat saji. Makanan dengan pewarna pakaian. Hanya yang kaya yang makan makanan layak.Tapi banyak diantara rakyat kami dahulu ada yang tidak bisa makan enak, bahkan banyak yang terkena kelaparan. Bayi bayi kena busung lapar. Kami tinggal di rumah rumah, di apartemen-apartemen dan ada juga yang tidak punya rumah. Tinggal di dalam gerobak, di emperan toko, atau di kolong jembatan. Hidup kami dihibur dengan film, sinetron, nyanyian, internet, dan hal hal canggih. Namun jiwa kami makin gersang sampai negari itu hancur. Yang mendapat hiburan hanya indera kami namun nurani kami tidak”

Kemudian kakek dan bujang muda terdiam seketika..... terhisap dalam dimensi waktunya masing-masing

”jauh sekali dengan kehidupan sekarang ya kek. Aku bersyukur kepada Tuhan. Aku sudah dilahirkan pada masa kini. Masa di mana semua orang hidup dalam lingkungan komunal. Tak ada si kaya tak ada si miskin. Dipimpin oleh si bijak bukan si kuat . Semua rakyat sadar akan aturan. Menjalankan aturan karena takut merepotkan orang bila melanggar. Setiap orang bisa beriman tanpa rasa takut. Semua orang makan makanan bergizi. Semua orang bernafas dan menghirup udara bersih. Semua anak menempuh pendidikan dengan bebas, menjadi bodoh tidak dilarang. Sakit karena alam bukan karena makanan atau minuman. Semua orang mempelajari kebajikan dan mengetahui makna satiap pertanyaan Tuhan.....”
Kakek mengangguk..bersyukur dalam hati masih diberi kesempatan untuk menikmati kehidupan yang indah ini

”Lalu kek....bagaimana dengan jalannya revolusi? berapa orang yang meninggal? apakah presiden terakhir meninggal dibunuh rakyat?”
”Di hari terakhir negeri itu berdiri....semua kacau...bom waktu yang disimpan bertahun-tahun meledak. Rakyat muak dengan keadaan. Muak dengan kelakuan pemimpin dan barisan loyalisnya. Oposan mereka hanyalah rakyat, bukan partai yang menasbihkan dirinya sebagai oposan. Semua toko dijarah rakyat. Pabrik-pabrik milik negara lain dihancurkan. Sekolah dihancurkan. Tempat tempat ibadah dibakar...negeri itu hancur karena jatuh miskin. Beberapa wilayah memishkan diri dan bahkan ada yang menyerahkan diri pada negara lain untuk dijajah.......presiden terakhir bunuh diri. Karena malu. Pada saat terakhir dia berkata: Nuraniku kini tersadarkan...aku tak layak masuk dalam surga...maafkan.....

”saat itu kakek di mana? kakek ada di pihak mana?” Bujang muda penasaran
” Saat itu kakek ada di barisan rakyat....kakek dulu yang bertugas.......” tiba tiba tangis kakek meledak. pundaknya berguncang hebat.
”kakek...kakek...kakek.....” bujang muda menenangkan kakeknya
”bujang aku ini juga sama saja seperti mereka”
”maksud kakek”
”aku membunuh mereka bujang.....tanganku ini berlumur darah bujang...kau tau bujang aku mengubur mereka di sana” tangan kakek menunjuk pada sebuah arah. Ia menunjuk ke sbuah lembah
” lembah bunga soka?....siapa yang kau bunuh kakek?” Dari sudut mata Bujang Muda, bulir-bulir air mata menitik perlahan...mengalir dari ke pipinya. Hatinya sakit mengetahui kakeknya dahalu seorang pembantai.
” aku sudah lupa bujang.....mereka yang dianggap loyal terhadap pemerintahan lah yang dianggap sebagai sasaran. Bahkan guruku juga aku bunuh. Bidan yang membantuku lahir juga aku bunuh... orangtuaku yang Pegawai Negeri terbunuh oleh temanku.....Aku ini kotor bujang......aku juga bagian dari kebiadaban. Aku ini orang orang yang disebut sebagai pahlawan dalam nyanyian rakyat utopianesia. Pahlawan dengan pedang bunga. Pedang yang mengantarkan mayat mayat ke lembah bunga. Lembah soka”
”Haruskan aku membenci kakek? atau mencintai kakek seperti sedia kala karena tanpa kakek dan kawan kawan kakek...negeri ini tak pernah lahir?”
”Tanya hatimu Bujang Muda”
”Hatiku membencimu sekaligus mencintaimu kakek”
”Hati tak pernah mendua bujang....dia akan sakit dengan jujur dan begitu pula saat ia bahagia”
Kemudian Bujang Muda mengambil pemantik api dan membakar buku tua itu.....dan ia berkata pada kakek:
”Biarlah masa lalu tanah airku terbakar, menjadi serpihan dan abunya terbang menuju tanah lembah soka...tanahnya orang orang yang dimakan revolusi...dimakan perubahan...tanahnya leluhurku yang kisahnya dihilangkan......”
”Bujang Muda....kau beruntung mengetahui kejujuran....kenyataan. Sejarah tak pernah bungkam selamanya. Semoga di masa depan tak ada darah tertunpahkan demi idealisme peradaban”

Bujang menangis dengan genuruh di dadanya




(Depok, Maret 2011)

Minggu, 04 April 2010

Lukisan Tanpa Bibir

Dia adalah laki–laki yang belum berbibir. Dia yang aku tidak ketahui namanya siapa, masih berbentuk lukisan. Aku lupa bibirnya seperti apa karena aku melukis tanpa sketsa. Aku melukis hanya lewat ingatanku saja, aku hanya bertemu dengannya sekali. Seingatku, aku berjumpa dengan objek yang kulukis kini ketika aku sedang makan siang dikantin fakultasku, Fakultas Seni Rupa, Universitas Hayam Wuruk, Jakarta. Saat itu dia yang belum mempunyai bibir dalam lukisanku sedang bercengkrama dengan temannya yang berbadan tambun. Aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, aku menganggap senyum yang ia perlihatkan adalah senyuman paling indah yang pernah aku lihat dari semua lelaki, bahkan lebih indah dari senyuman Brad Pitt di poster Film Mr and Mrs. Smith.
Matanya juga indah, tatapannya seperti tatapan kelinci yang membuat semua rubah sepertiku jatuh cinta. Lalu rambutnya, rambutnya yang ikal dan dibiarkan panjang sampai leher bewarna sangat hitam. Kulitnya cokelat dan bila tersorot sinar matahari, warnanya akan membuat pelukis seperti aku langsung mengambil kanvas dan mencampur warna. Tapi sayang aku lupa kepada bentuk bibir sang objek lukisanku, padahal yang membuat aku jatuh cinta kepadanya adalah senyumannya. Bukankah senyuman memerlukan bibir?
Semenjak aku bertemu dengan lelaki tak berbibir dalam lukisanku yang ternyata adalah mahasisiwa fakultas teknik, aku semakin menjadi bersemangat mengerjakan tugas untuk pameran yang akan diselenggarakan tiga hari lagi. Sebenarnya aku sudah berencana untuk melukis buah–buahan saja, tapi semenjak aku bertemu dengan anak fakultas teknik yang aku tak ketahui namanya dan lupa akan bentuk bibirnya, aku membatalkan niatku untuk melukis buah-buahan karena mereka tak punya senyuman yang membuatku tak tidur nyenyak sebulan ini.
Bakatku dalam melukis, secara genetis kudapat dari ayahku yang juga seorang pelukis, malahan Ayah sudah sering tidur di Barcelona untuk memperlihatkan lukisan impresionis berobjek alam dan wanita telanjangnya pada khalayak Eropa dan dunia. Kata Ayah, wanita telanjang adalah representasi dari alam dan menurutnya lagi, melukis adalah menjadi Tuhan dengan T kecil. Dengan melukis kita bisa mencipta alam dengan kemauan kita sendiri. Awan bisa kita beri warna ungu ketika kita sedih atau matahari bisa kita beri warna merah ketika kita sedang marah. Memang ada–ada saja jalan pikiran pelukis, apalagi yang sudah berkelas kaliber seperti Ayah. Ayahku yang keturunan Surabaya asli memberikan kata wapik tenan ke lukisan yang dianggapnya benar–benar bagus. Lukisanku baru satu kali mendapatkan predikat prestisius itu. Lukisan berobjek lelaki fakultas teknik tanpa bibir itulah yang baru mendapat gelar kehormatan wapik tenan dari ayahku. Menurut Ayah, sebelas lukisanku sebelumnya terlalu nyata dan tidak melibatkan unsur Tuhan dengan T kecil (tuhan), lalu menurut ayahku yang bernama Dewa Kriya itu, dalam melukis kita harus melupakan peran kita sebagai manusia biasa. Dia sering berkata dengan logat surabayanya kepadaku seperti ini .
“Kirana, kamu ini pelukis bukannya peniru Tuhan, jadi jangan berusaha melukis alam dan jeroannya senyata mungkin. Ayah tahu kamu sudah berhasil menjual lukisan– lukisanmu itu dan mampu membeli mobil VW Battlemu sendiri, tapi Ayah belum mau mati sebelum memberi kata wapik tenan pada lukisanmu“.
Biasanya Ayah berkata seperti ini ketika kita berdua sedang makan malam di rumah dan Ayah sedang mengunyah pete bakar kesukaanya.
Ketiadaan Bunda semenjak aku berumur lima tahun, membuat Ayah bertindak juga sebagai Bunda yang aku masih ingat wajahnya, bahkan bibirnya. Ayahlah yang mengajarkan aku masak, mendengarkan masalah–masalah ketika aku menjadi gadis puber, dan Ayah juga yang pertama kali tahu kalau aku ini punya bakat melukis. Ayah adalah inspirasiku dalam melukis, tetapi aku melukis dengan aliran yang berbeda dengan Ayah, aku melukis dengan aliran yang disebut oleh para ahli seni sebagai aliran realisme. Aku bisa membuat lukisan pohon cemara persis seperti aslinya dan aku bisa melukis Rano Karno lengkap dengan tahi lalatnya, malah Rano Karno rela membeli hasil lukisanku dengan harga yang bisa dibilang lumayan untuk ukuran pelukis wanita seperti aku. Pelukis idolaku adalah Leonardo Da Vinci sang pencipta Monalisa dan Michelangelo sang pelukis langit Basilika di Vatican. Mereka memang seniman realis paling jenius dan belum ada tandingannya.

****
Lukisan tanpa bibir itu masih berada di dalam studioku, lelaki fakultas teknik yang tak aku ketahui namanya itu kulukis dengan tatapan mata jatuh cinta dan agak sedikit sendu. Alisnya aku buat persis seperti yang dia punya, tebal dan hitam. Rambutnya kulukis dengan warna hitam paling pekat, malah cat minyak hitam yang aku punya aku campur dengan jelaga. Badannya aku buat setengah badan saja, posisinya agak miring sedikit, tangannya aku lukis sedang mengenggam bunga mawar dengan harapan suatu saat nanti dia memberikan aku bunga mawar merah dan tentu saja bibirnya secara harafiah.
Aku benar–benar gandrung dengan sang empunya bibir, aku rela menggadaikan jiwaku kepada setan untuk mendapatkan memoriku tentang bibirnya. Tapi setan mana yang mau mempertukarkan ilmu jahatnya dengan memoriku yang menyimpan visualisasi bibir milik mahasiswa fakultas teknik itu ?
Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengannya di lorong rektorat tapi betapa bodohnya aku, karena aku terlalu terpana dengan tatapan matanya, aku sampai lupa perhatikan dengan seksama bibirnya. Malah aku menangis di mobil saat ingin pulang ke rumah. Aku rasa aku tidak hanya menyesal tidak mendapatkan imaji tentang bibirnya, tetapi aku benar – benar jatuh cinta pada sang empunya bibir.
Waktuku tinggal tiga hari lagi untuk mengikuti pameran yang menjadi ujian akhirku pada mata kuliah Praktek Pameran Seni Rupa. Aku bisa saja melukis objek lukisanku dengan bibir rekaanku, tapi itu sama saja pengkhianatan pada prinsip melukisku. Memang di luar sana banyak orang yang mengkhianati prinsipnya sendiri, tapi aku tak mau seperti itu karena itu sama saja makan muntah sendiri.
Rasanya ingin sekali menghampiri si empunya bibir ke fakultas teknik dan memoteret bibirnya dengan kamera digital. Michelangelo saja berani mendatangi kamar mayat dan melihat bagian anatomi tubuh manusia dengan tujuan dapat melukis manusia sesuai dengan kodratnya. Bila sudah melibatkan perasaan cinta seperti ini, hal yang biasanya bisa dihantam dengan keberanian bisa menjadi hal tersulit. Pernah pada suatu ketika, aku ingin melukis edelwis persis seperti aslinya. Demi edelwis itu aku rela mendaki Gunung Gede sendirian dengan membawa kanvas ukuran satu meter kali satu meter ke puncak Gunung Gede.
Bila aku tak jatuh cinta dengan mahasisiwa fakulktas teknik itu mungkin aku berani menghampirinya dan meminta dirinya untuk duduk di hadapanku sekarang dan kulukis dia dengan sempurna, lengkap dengan bibirnya.
Satu hari berlalu tanpa ada kemajuan pada lukisanku, lukisanku masih tetap telanjang tanpa bibir. Kata Ayah biarkan saja lukisan itu tanpa bibir, jadi orang yang melihatnya bisa berimajinasi dengan bebas seperti apa bibirnya. Mungkin bila dilihat dari sudut pandang Ayah, lukisanku bercita rasa seni tinggi. Tapi hal itu bertentangan dengan prinsipku, aku bertekad hari ini aku harus menghampiri si empunya bibir dan menyanderanya sebentar di studioku untuk melengkapi ketelanjangan lukisanku. Aku tahu bibir bukanlah panca indera yang penting, tetapi mau dikemanakan ekspresi manusia tanpa bibir ?
Kubawa VW Battle kuningku dengan kecepatan maksimal ke kampus, aku tak peduli dengan makian supir metromini yang badan mobilnya hampir aku tabrak ketika aku menyalip dari sebelah kiri. Tuhan masih mau aku hidup, untuk melengkapi lukisan tanpa bibirku, buktinya aku bisa sampai di kampus dengan selamat dan mobilku juga tidak mengalami lecet di badannya. Setelah kuucapkan puji dan syukur pada Tuhan karena diberi keselamatan, kuparkir mobilku tepat didepan Fakultas Teknik, Universitas Hayam Wuruk , Jakarta.
Lalu aku berjalan menuju ke dalam gedung fakultas, di dekat tangga menuju lantai dua ada sekerumunan mahasisiwa sedang bersenda gurau lalu aku hampiri mereka. Kutanyakan pada mereka apakah mereka kenal dengan orang yang menjadi objek lukisanku, aku beri pada mereka ciri–ciri yang aku ingat, mulai dari bentuk rambut, bentuk wajahnya yang berahang tegas, sampai ke warna kulitnya yang cokelat. Menurut mereka ada sekitar sepuluh orang di fakultas teknik yang memiliki ciri seperti itu.
Mereka meminta nama untuk memudahkan pencarian, tetapi sayangnya aku tak tahu. Lalu aku memberi pelengkap pada identifikasinya, yaitu temannya yang tambun. Mereka serempak mengucap barisan huruf O yang panjang. Menurut mereka orang yang aku cari itu bernama Semesta dan temannya yang berbadan tambun itu bernama Rakai. Aku sangat senang dengan informasi tersebut, malah aku mendapatkan informasi lagi dari kerumunan itu, kata mereka Semesta sekarang sedang kuliah di Ruangan 308, itu ada di lantai tiga gedung ini. Menurut mereka, aku bisa menghampirinya dan memanggilnya sebentar karena dosennya sedang tidak ada di kelas. Mereka juga ternyata teman sekelasnya Semesta. Sepertinya mereka itu mahluk yang malas ikut diskusi.
Setelah mendapatkan informasi, aku tak mau berlama–lama bergeming karena terlalu senang. Aku segera menaiki tangga dan menuju ke lantai tiga. Kelas yang di maksud juga tidak jauh dari anak tangga. Ruangan 308 seperti peti harta karun dimataku. Aku segera mengetuk pintu yang berkaca, lalu ada seorang gadis dengan kerudung hijau membukakan pintu dan menanyakan aku ingin bertemu siapa. Aku langsung menyebut nama Semesta. Lalu gadis berkerudung hijau itu celingak – celinguk mengamati barisan di belakang untuk mencari Semesta. Setelah selesai dia menghampiri aku yang berdiri di belakang pintu, menurutnya Semesta tidak hadir hari ini.
Kekecewaan meliputi hatiku, aku berjalan lunglai menuju lantai bawah. Musnah sudah harapanku untuk melengkapi bibir pada lukisanku. Tapi tekadku tidak berhenti sampai disitu, aku baru teringat masih ada satu nama yang bisa memberi tahu tentang dimana keberadaan Semesta. Dia adalah Rakai. Lalu aku kembali ke Ruangan 308 dan bertanya pada gadis berkerudung hijau, apakah Rakai hari ini hadir. Menurut gadis berkerudung hijau, Rakai sudah seminggu ini tidak hadir karena sakit demam berdarah. Dua kali sudah aku kecewa, lalu aku meminta nomor telepon selularnya Semesta. Sedikit keberuntungan menghampiriku, gadis berkerudung hijau bernama Rara itu punya nomor telepon selularnya Semesta. Setelah mengucapkan terimakasih aku segera pergi menemui dosen pembimbingku yang tadi pagi menagih hasil karyaku via telepon. Menurutnya aku harus memberikan hasil karyaku pada kurator sore ini, jika tidak aku harus mengulang mata kuliah ini tahun depan. Otomatis aku tidak bisa lulus tahun ini dan beasiswaku untuk mengambil S2 di Perancis terancam gagal.
Rencananya, setelah menghadapi dosen aku akan menelepon Semesta siang ini dan membuat janji bertemu lalu memotret bibirnya di suatu tempat. Manusia hanya bisa berencana, dosenku marah – marah selama satu jam di ruangan kerjanya. Dia kecewa kepadaku karena dia menganggap aku main – main dengan mata kuliahnya. Hanya aku saja yang belum mengumpulkan karya kepada kurator di galeri kepunyaan kampus. Aku sudah jelaskan sebabnya tetapi dia masih saja tidak mengerti.
Setelah dimarahi habis – habisan di ruang dosen dan disaksikan oleh beberapa mahasiswa dan dosen, aku keluar dengan muka dan kuping merah. Ingin rasanya menangis. Tapi aku tak mau menyalahkan Semesta, hal buruk ini terjadi karena ketidakberanianku meminta kepada Semesta secara langsung untuk melukis wajahnya. Sesal memang datang belakangan. Aku teringat akan kata – kata Ayah. Menurutnya untuk mencapai kesuksesan kita harus terlebih dahulu menginjak kerikil tajam tetapi kita jangan terpuruk oleh rasa sakit akibat luka yang ditimbulkan, kita harus mengobatinya segera agar tidak terjadi infeksi. Aku tidak boleh sakit hati pada dosen pembimbingku tetapi aku harus segera menelepon Semesta dan melukis bibirnya.
Aku duduk di taman sastra untuk mencari ketenangan sejenak. Lalu aku segera menghubungi Semesta. Beberapa detik kemudian ada nada penanda telepon diangkat, hatiku riang sejenak tetapi aku kembali kecewa karena yang menjawab mesin operator. Semesta sedang berada diluar jangkauan sinyal. Berarti Semesta sedang tidak ada di Jakarta saat ini. Tubuhku kembali lunglai, aku tak sanggup berdiri, tak terasa air mata mengalir dari sudut mataku. Baru kali ini aku gagal dan menangis karena kegagalanku. Aku tak sanggup menyetir mobil jadi kutelepon Ayah untuk menjemputku di kampus. Musnah sudah impianku mencapai kesempurnan dalam karyaku kali ini. Tetes demi tetes air mataku jatuh kebawah tanah. Dunia di sekelilingku menjadi sentimentil. Sambil menunggu Ayah menjemput, aku membuat sketsa yang menggambarkan suasana hatiku diatas kertas A4. Aku menggambar pemandangan di selilingku menjadi tampak menyedihkan. Aku menjadi impresionis seperti Ayah, langit yang seharusnya bewarna biru aku buat menjadi abu – abu, bunga mawar yang ada di depanku kulukis menjadi bewarna lembayung, dan aku lukis kebeberadaanku ditengah pemandangan itu dengan muka rata tanpa bibir, mata, dan hidung.
Satu setengah jam kemudian Ayah datang dengan celana tukang sate selututnya dan kaus putih lengan pendeknya. Ia memakai topi pet kesayangannya yang bewarna cokelat muda. Segera kupeluk Ayah dan kutumpahkan air mataku dipundaknya. Kuceritakan kegagalanku pada Ayah. Ayah mendekapku begitu erat dan membelai rambut panjangku. Kata Ayah lukisan tanpa bibirku adalah lukisan terindah yang pernah Ia lihat. Malah Ayah membawakan lukisanku untuk dikumpulkan pada kurator sekarang. Firasat Ayah memang tepat. Lukisan dengan ukuran kanvas 60 cm x 40 cm itu sudah berada di bangku belakang mobil kijang Ayah. Ayah menghapus airmataku, Ia kemudian mengambilkan lukisanku dan mengantarkan aku ke ruang pameran.

****
Keesokan harinya lukisan yang kudaftarkan dengan judul LUKISAN TANPA BIBIR dipajang di tengah ruangan. Lukisanku mendapat apresiasi yang bagus dari pengunjung pameran, malah dosenku memujiku habis – habisan dan meminta maaf dengan traktiran makan siang. Beberapa pengunjung menawarkan lukisanku dengan harga tinggi, tetapi aku menolaknya dengan halus karena ini adalah karya dengan latar belakang yang unik. Lukisanku juga mendapatkan publikasi dari beberapa majalah seni terkemuka dan stasiun tivi. Ayah hari ini tidak dapat hadir karena tadi pagi Ia harus berangkat ke Hanoi, Vietnam, untuk menghadiri Konferensi Perupa se-Asia Tenggara. Sebenarnya aku tak sanggup menghadapi kesuksesanku tanpa Ayah, tetapi Ayah sudah memberikan kecupan dikeningku tadi pagi sebelum berangkat ke bandara. Jadi aku bisa tegar denga kegemilanganku hari ini.
Setelah pameran usai aku pergi ke taman sastra dengan perasaan bercampur aduk. Aku sangat senang karena karyaku mendapatkan apresiasi positif dari pengunjung dan Ayah mengeluarkan kata wapik tenan perdananya untukku. Rasa penasaran pada Semesta masih mendera batinku kemudian sesuatu dari otakku memintaku untuk menghubungi nomornya. Semesta mengangkat telepon selularnya, suaranya sangat lelaki sekali, ternyata dia ada di kampus dan ada di kantin fakultas teknik, aku segera berlari ke sana bersama seribu angan di kepalaku, aku berniat memeluknya dan mencium bibirnya meski hanya sekali.


Depok, 19 Agustus 2007